Aku udah 3 tahun jadi member di salah satu fitness centre di Bandung. Dua tahun pertama aku menggunakan jasa personal trainer. Trainer yang aku pilih waktu itu adalah seorang sarjana olahraga. Cara dia melatih sangat berbeda dengan trainer lainnya, bener-bener mirip guru olahraga, hahahaaha !
Selain program latihan yang lebih serius dibandingkan dengan trainer lainnya, ada hal lain yang membedakan Trainer ini (selanjutnya aku sebut “Trainer F” saja), yaitu profesionalisme-nya dalam menjalankan pekerjaan. Ia selalu membantu setiap orang yang ada di gym, baik itu anggota lama maupun anggota baru. Untuk anggota lama ia sering meng-koreksi jika ada gerakan yang kurang sempurna. Sedangkan untuk anggota baru ia pun memberi perhatian yang sama. Selain itu, yang aku perhatikan, jika ada Trainer atau staf lain yang tertawa atau bercanda secara berlebihan di depan pelanggan, Trainer F selalu menegur dengan cara yang halus. Aku perhatikan bahwa ia memiliki wibawa tersendiri diantara rekan-rekannya.
Kira-kira setahun lalu, Trainer F ini pindah kerja disini sebagai staf marketing.
Sejak saat itu, tidak ada lagi Trainer yang bersikap profesional di gym itu. Trainer yang ada sekarang berjumlah 3 orang; yang 1 lebih sering ngobrol dengan orang-orang yang ia kenal saja, yang 1 lagi sering datang terlambat, itu pun ia lebih sering berada di suatu tempat (entah dimana) ketimbang di arena fitness. Sedangkan yang 1 lagi, kalaupun ada di arena fitness, ia sedang nonton TV atau SMSan. Kalaupun mereka membantu para pelanggan, cuma seadanya saja, setelah itu ditinggal.
Padahal finess centre ini sampai mengadakan program penurunan harga untuk member-member baru dan memang aku lihat banyak muka-muka baru yang bener-bener baru kenal fitness. Kasian mereka ini, akhirnya sering keluyuran ga puguh diarena fitness, kalaupun melakukan latihan beban, cenderung latihan seadanya yang menurut aku sia-sia saja. Trainer-trainer yang bertugas ya hanya ngasih petunjuk seadanya saja trus ditinggal.
Hal paling parah adalah yang aku alami hari ini.
Aku datang jam 8.30 saat itu hanya ada 1 petugas, front office saja. Yang lainnya masih mandi ! (hal ini sih udah cukup sering terjadi) Padahal gym buka jam 8 pagi, tapi jam 8.30 karyawan masih seperti itu.
Jam 11.15 aku selesai dan menuju ruang mandi. Shower ga jalan, air hanya menetes. Ketika aku panggil petugas, jawaban mereka: “Iya, memang begitu. Soalnya lagi ngisi Whirpool”. Lalu aku tanya: “Trus saya mandinya gimana ?” Jawaban mereka:”Ya, gimana ya ‘bu…”
Kenapa mereka mengisi Whirpool disaat seperti itu ? Mereka kan sudah tau ada sekitar 6 pelanggan yang sudah datang dari jam 9, artinya sekitar jam 11an mereka semua akan mandi, dan mereka juga sudah tau bahwa jika mengisi Whirpool maka air akan mati. Lalu kenapa bukan di-isi dari jam 8 tadi pagi ?
Boss tidak melakukan kontrol, anakbuah bekerja seenak-enaknya saja, akibatnya sumber uang mereka akan hilang satu demi satu … tinggal tunggu waktu saja.
Susah sekali menjaga profesionalisme kerja agar tetap stabil, yang lebih parah adalah sangat sulit menjalankan tanggungjawab yang kita miliki, dalam hal ini adalah tanggungjawab sebagai atasan yang dipercaya oleh perusahaan, juga sebagai karyawan yang dipercaya oleh atasan.
Apakah orang-orang seperti ini bisa mengajarkan arti dari sebuah tanggungjawab kepada anak-anak mereka ?
So, kita bisa menebak generasi kedepan seperti apa ‘kaaaan….
langsung complain ke manajer.. hehe.. ato kasi liat tulisan di blog ini sama pegawai disana