Untuk urusan membeli barang-barang diatas itu, aku bukan termasuk orang yang menggunakan review atau rating sebagai referensi. Pada dasarnya buku, lagu atau film yang aku beli adalah yang aku mau beli saja, ga ada urusannya dengan pendapat orang lain.
Bagiku review merupakan pendapat pribadi, yang bisa saja dipengaruhi oleh beberapa pendapat sebelumnya dan tergantung pada kecocokan gaya si penulis terhadap pembacanya. Jadi, sebuah review buku (bedah buku) bukanlah merupakan parameter pertama bagiku dalam menentukan buku yang akan aku beli, karena selera kita belum tentu sama. Apa yang ditulis / disampaikan oleh ‘yang me-review’ tentunya berdasarkan asumsi pribadinya / seleranya yang sifatnya sangat subyektif. Belum lagi pendekatannya belum tentu cocok dengan aku.
Salah satu contoh, dalam majalah Rolling Stone Indonesia ada sebuah rubrik khusus untuk review; mengulas pendapat mengenai sebuah album musik, lengkap dengan ratingnya. Aku suka membaca rubrik itu tapi bukan untuk masukan dalam membeli album musik, apalagi kalau pendekatan yang dipakai oleh penulisnya kurang cocok denganku; misalnya mengungkit-ungkit masalah non-musikalitas dari si penyanyi / grup (masa membahas grup musik tapi kok bawa-bawa kehidupan pribadinya, faktor X-lah, faktor Y-lah, dst… jadi kaya infotainmen aja). Dalam hal membeli sebuah album musik, aku sih berpatokan pada telingaku saja. Kalau enak ya dibeli, kalo ga enak ya ga dibeli
Sebodo amat review mau bilang apa & seberapa banyak deretan gambar bintangnya.
Dalam film misalnya, hampir semua film-film yang menang oscar biasanya aku males nonton karena bagiku terlalu banyak conversation, membosankan dan cepet bikin ngantuk. Aku bukan termasuk penggemar film, jadi memang cukup norak kali seleranya, hahahahaaaa…!
Salah satu email yang masuk melalui halaman contact di blog U2, menanyakan alasanku membeli buku-buku U2. Sebenernya sih kalau mau iseng, aku bisa jawab: “lha, namanya juga penggemar U2, masa belinya buku mengenai Rolling Stones ?”. Tapi aku ga jawab gitu sih …
Pada dasarnya aku sampai mempunyai buku-buku U2 semata-mata karena ingin mengetahui lebih banyak saja mengenai U2 dari sudut pandang yang berbeda-beda. Alasan lainnya, bisa juga karena unsur balas dendam. Dulu, waktu masih dibiayai ortu, mau beli majalah HAI yang memuat U2 aja nabungnya gila-gilaan. Mau beli kasetnya U2 aja sama dengan seminggu jalan kaki tuh kesekolah. Dulu juga aku cuma bisa jalan-jalan kesalah satu toko buku di Braga yang jual majalah2 luar, bukan buat beli buku / majalah tapi hanya untuk liat-liat atau megang-megang aja tuh majalah yang covernya ada U2 – majalahnya diplastikin dan megangnya juga sambil dipelototin ama penjaganya, jadi boro-boro bisa ngintip, ya emang asli aja cuman megang doang !
Ketika orang mengetahui bahwa buku / DVD U2 yang aku beli kebanyakan online via amazon, aku juga ditanya apakah tidak sayang jika sudah membeli mahal-mahal lalu ternyata tidak bagus. So far, semua U2-thing yang aku beli sih tidak menimbulkan rasa penyesalan. Aku males baca-baca reviewnya segala. Yang nulis review-nya aja aku ‘ga kenal… jangan-jangan yang nulisnya malahan orang publishing ? ato bagian U2 manajemen-nya ? ato orang amazon-nya ? Halah…
Jadi, skali lagi aku ga pake’ review-review-an untuk urusan beli buku, musik atau film… kalau suka ya dibeli, kalau tidak suka ya tidak usah dibeli
Terima kasih bagi semua pihak yang sudah melakukan tugasnya dalam membuat review 
Eeeit, jangan buru-buru menuduh aku anti-review ! Aku tetap membaca review dalam hal membeli gadget karena bersifat fungsional, buktinya aku ikutan di forum ini.
Have you read Bono on Bono?
the best one can really describe who is Bono…very interesting book because it written based on discussions, talks and took quite sometime to get the book done…..
a lot great quotes that we can learn from the B man comments………
“if you wann kiss the sky, better learn how to kneel..”
Ms. Bono