Sukses Jepang menjadi kerajaan Manga tidak lepas dari peran komikus berbakat, Osamu Tezaku (1928-1989).
Tezuka sangatlah produktif. Dia akhir hayatnya ia telah menghasilkan 150.000 halaman manga, sekitar 500 episode anime berdurasi 24 menit, dan 200.000 naskah anime. Tezuka juga dikenang sebagai pencipta komik bertutur (narrative comics) dan peletak dasar sistem baru produksi manga. Maka, orang pun menjulukinya sebagai “Dewa Manga” dan “Bapak Anime”
Keterangan itu aku kutip dari komik yang baru selesai aku baca, Buddha.
Menarik sekali !
Cerita mengenai Siddhartha Buddha Gautama dibuat dalam komik Manga 8 seri.
Sebelumnya, komik kesayanganku yang dibaca berulang kali dan aku simpan dalam lemari kaca (hihihi..) adalah serial Dragonball. Well, sekarang ada serial Buddha yang juga akan menjadi penghuni lemari kaca itu, hehehe…

Berlatar belakang kehidupan masyarakat India yang masih mengenal pembagian kasta ketika itu, cerita ini menyoroti dua (atau tiga) kasta yang paling ekstrim; Brahmana, Sudra & Paria.
Kasta lainnya tidak begitu banyak ditampilkan.
Tokoh-tokoh utamanya pun berasal dari kaum bangsawan (kerajaan) dan budak.
Dilatarbelakangi oleh rasa dendam yang bersemayam dalam hati masing-masing tokoh, sehingga akhirnya mereka bertemu dengan sang Buddha dan memperoleh ketenangan bathin.
Sang Buddha sendiri digambarkan sebagai putra raja dari kaum Shakiya; yang sedari kecil sudah menganggap pembedaan manusia berdasarkan kasta merupakan hal yang tidak dapat diterima oleh pikirannya sehingga beliau memutuskan untuk menjadi petapa.
Dalam pencarian jati dirinya pun sang Buddha mengganggap bahwa bertapa dengan menyiksa diri bukanlah hal yang dapat dimengerti; hidup manusia bukanlah harus diisi dengan cara menyiksa diri dan mati kemudian menjadi agung, sementara orang lain (kaum jelata) yang tidak bertapa pun mengalami penyiksaan diri dalam bentuk lain.
Dari komik tersebut, ada 3 ajaran dari sang Buddha yang secara konsisten di garis bawahi;
PERTAMA. Semua makhluk hidup didunia memiliki ketergantungan satu dengan yang lain, tidak ada satu makhluk hidup pun yang dapat bertahan hidup dengan mengandalkan dirinya sendiri.
KEDUA. Dari seri 1 s/d 8, pembaca akan terus diingatkan bahwa setiap perbuatan kita akan menghasilkan sesuatu yang dapat langsung kita rasakan, atau oleh keturunan kita selanjutnya.
Walaupun dengan cara yang kadang kocak (khas komik manga), tapi alur cerita yang cukup berat ini dapat menggambarkan bagaimana hukuman yang harus dijalani oleh seseorang akibat perbuatannya - bahwa setiap akibat berasal dari sebuah sebab.
KETIGA. Walaupun hidup-mati kita telah digariskan dalam takdir, tapi jalan menuju penggenapan takdir itu akan ditentukan oleh manusia sendiri.
Adalah seorang raja yang memimpin kerajaan Magadha bernama raja Bimbisara yang diramalkan akan meninggal pada usia 41 tahun, dibunuh oleh anaknya sendiri. Sebuah ramalan yang menyakitkan bagi sang raja maupun bagi anaknya.
Sejak mendengar ramalan tersebut, raja Bimbisara tidak pernah sekalipun tidak memikirkan cara untuk menghindari takdirnya. Sang anak, pangeran Ajatassatu, pun akhirnya sangat membenci Buddha karena dianggap membenarkan ramalan bodoh itu, sehingga terbersitlah keinginan untuk membunuh sang Buddha dengan tangannya sendiri.
Konflik bathin raja Bimbisara dan rasa benci pangeran Ajatassatu akhirnya mewarnai kehidupan mereka, dalam pikiran dan tingkah laku masing-masing. Tanpa mereka sadari, mereka akhirnya menggenapi apa yang telah diramalkan.
Dalam cerita pun, sang Buddha, sebelum mencapai tahap pencerahan dari Brahma selalu memikirkan cara untuk menghindari kematian dan tidak siap menghadapi kematian.
Sampai akhirnya datanglah kesadaran bahwa semua manusia akan menghadapi kematian. Hal itu tidak dapat dihindari.
Selanjutnyak, tergantung manusia, ingin mengisi jalan menuju kematian itu seperti apa. Mati karena narkoba, karena kebut-kebutan dijalan, karena bunuh diri, karena penyakit atau apa.
Mengamati tokoh-tokoh yang ditampilkan, yang kemudian menjadi orang-orang yang dekat dengan sang Buddha, sangatlah menarik.
Orang-orang pilihan sang Buddha bukanlah orang-orang suci, malah yang menjadi tangan kanan beliau hingga ajal menjemput, merupakan seorang mantan pembunuh sadis (bernama Ananda) yang digambarkan sebagai anak yang diberkati oleh raja iblis.
Tanpa maksud untuk menyamakan atau membandingkan, tapi aku jadi teringat tokoh Jesus dalam cerita nasrani.
O ya, salah satu bab dalam buku ke-7 sangat menggelikan untukku.

Ya… bagian itu menceritakan orang-orang yang membenci sang Buddha. Kumpulan orang yang selalu merasa dirinya paling benar dan orang lain ngawur. Kelompok ini menghabiskan waktu untuk mencela apa yang tidak sesuai dengan keinginannya dan melakukan tindakan2 tidak terpuji semata-mata untuk membenarkan asumsi mereka sendiri atas keterbatasan pengetahuan yang mereka miliki.
Aku tertawa membaca judul itu karena belakangan ini aku sering menggunakan istilah yang sama, Kumpulan Pencela, hahaha… ![]()
wow…
theme baru… jadi seger…
wah komik ya, saya ga terlalu suka…
Wah gila, gara2 review dari dirimu aku jadi kepengen beli nih buku!